Rabu, 11 Mei 2011

19=1+9=10=better score!

Keinginan ini memang sudah diproklamirkan sejak lama walaupun hanya disampaikan secara intrapersonal. Keinginan ini ada karena saya ingin. Pokoknya, malam kamis harus begadang! Alhamdulillaah, malam kamis yang ditunggu pun datang juga! Sebenarnya, tak banyak yang ingin dilakukan; hanya ingin menyelesaikan semua tugas pekan ini dan menghabiskan hari sebelum hari spesial itu tiba.
======================================
Ya, hari spesial. Hari ini, tepat 19 tahun yang lalu, seorang bayi perempuan telah lahir ke dunia ini melalui perjuangan seorang ibu yang luar biasa! Sang ibu pun merawat bayinya dengan sabar, tak kenal lelah. Apakah mungkin seorang ibu mengeluh hanya karena anaknya merengek kelaparan? Tidak sama sekali. Sang bayi pun tumbuh, merangkak kemudian berjalan. Tentu saja dengan bimbingan sang ibu yang tak kenal lelah. Lelah sama sekali tak terlintas di benaknya, yang terpikir hanyalah,"semoga anakku ini dapat berjalan sendiri dan menentukan arahnya."
Seiring waktu, semuanya berubah. Bayi itu bukan lagi seorang bayi. Ia tumbuh menjadi anak yang disenangi banyak orang karena kelucuannya. Semua orang yang bertemu pasti mencubit pipinya yang tembam. Bahkan tak jarang orang yang bilang perutnya seperti balon. Apa yang terjadi pada raut wajah kita, saat mengingat masa kecil? Pasti yang ada hanya senyuman dan tawa, betapa lucunya diri ini dulu. Hati kita pun ingin kembali ke masa itu. Subhanallaah :) Ketika beranjak remaja, ia mulai kenal dunia dan merasa dunia ini miliknya sendiri. Ia ingin kebebasan. Bebas melakukan apa pun di dunia ini, hingga ia lupa, bagaimana cara membalas budi kepada ibunya. Kecewa. Itulah yang dirasakan sang Ibu. Perlahan ia pun menyadari, bahwa dunia bukanlah yang ia cari. Beranjak dewasa, ia memutuskan untuk lebih mendekatkan diri dengan-Nya sebagai tanda terimakasih karena telah memberi segala yang ia perlukan :) Alhamdulillaah.
"Terimakasih Yaa Rabb, kau telah izinkan aku mengenal mereka, sahabat yang mengajakku meraih mimpi bersama. Hingga akhirnya, mimpi ini menjadi kenyataan. Rabbi, bahagiakanlah mereka sepertiku. Aku sangat merindukan mereka. Kutitipkan ia dalam dekapan kasih sayangmu. Biarlah hanya doaku sebagai pelepas rindu ini. Berikanlah selalu mereka yang terbaik :) Rabbi, berkahilah keluargaku dan berikanlah kekuatan kepada kami untuk dapat mensyukuri nikmatMu :)bimbinglah langkah kakiku agar selalu melangkah di jalanMu. aamin."
=========================================
Wahai diri, berhentilah menjadi sanguin yang selalu menunda-nunda karena sesungguhnya sedetik pun waktu tak 'kan pernah kembali. Berhentilah menjadi sanguin yang tak dapat menepati janji karena janji adalah utang. Jadilah sanguin yang hangat dan selalu mencairkan suasana. Mereka menanti kehangatanmu. Jadilah sanguin yang selalu hidup teratur.
Wahai diri, berberhentilah menjadi sang flegi yang selalu diam, mengangguk dan mendiamkan kebatilan. Wahai jiwa yang tenang, katakanlah TIDAK pada kebatilan, katakan YA pada kebenaran :)
=========================================
Sebentar lagi UAAAAAAAAAAAAAASS!! Come on guys, let's study hard!
"Berikanlah hasil yang terbaik untuk semua usahaku, aamin :)"
There are things to do before twenty!








ruang ketenangan, hari ke dua belas bulan mei 2011.

Selasa, 10 Mei 2011

Permintaan

hujan mengalir
deras
daun berguguran
tulang rapuh
tanah kering
kerontang

angin
berhembus
meniup
debu
tanah
menusuk
mata
hujan mengalir deras
kilat menyambar

kembalikan tulang batang gigi rapuh kami




lantai 3 Al Furqon, Bumi Siliwangi, hari kesepuluh bulan Mei 2011

Jumat, 06 Mei 2011

Jum'at, 6 Mei 2011

"Selalu ada bunga yang mekar setiap hari.
Walaupun bunga itu seharum teratai,
harum namun tak mewangi."
-Sakinah-

Bismillaah.
Hari Jum'at adalah hari kejepit bagi saya. Mengapa? Karena hari kamis saya libur and, you know what? Saya merasa (sangat) malas pergi ke kampus setiap hari Jum'at. Fortunately, selalu saja ada yang membunuh rasa malas saya ini, misalnya presentasi mata kuliah Pendidikan Kewarganegaraan, rapat divisi keputrian, Kajian Cinta Al-Qur'an dan lain-lain. Hanya satu yang membuat saya malas menghadapi hari Jum'at di semester dua ini: mata kuliah Olahraga. Apalagi kalau disuruh lari empat keliling stadion UPI. Masya Allaah! Capek bangeeeeeeeeeeeeeeeeett!

Pukul 06.28
Ponsel bergetar. Ada SMS dari Shandy:
Jarkom dari Yura:
hari ini olahraga sendiri,
absen berlaku. Dosen ga bisa hadir.

"Yah! Nggak rame banget sih? Mending libur aja sekalian!" gerutuku dalam hati,"telepon Yura ah!"
.....................
Yura: Hallo..
Saya: Hallo, Yur. Jatah bolos mata kuliah olahraga teh berapa kali sih?
Yura: Nggak tau.
Saya: Oooh ya udah atuh kalau gatau mah... (belum selesai)
Yura: Ya udah nggak usah dateng aja, Fin. SMS-in aja anak-anak. Bilang, nggak usah dateng. Biar aku aja yang absenin.
Saya: (senang tiada terkira) asyik! ya udah deh, sip! 'makasih ya, Yur?
.....................
SMS pun saya kirimkan ke semua teman kelas A2. As you see, my chairlady, Yura itu baik banget yaa, orangnya? Nggak salah deh, milih dia jadi chairlady! Hehehe.
NOTICE: DON'T TRY THIS AT ANYWHERE!
=============================
Pukul 10.00
Di Jalan Riau, sopir angkot menghentikan mobilnya untuk menaikkan penumpang. Kali ini, angkot yang saya tumpangi adalah angkot Kebon Kalapa (baca: Abdul Muis)--Ledeng. Di sana, ada sepasang ibu dan anak laki-laki usia sekolah dasar. Saya tidak tahu persis kelas berapa, tetapi dari pembicaraannya, mungkin dia kelas 4, 5 atau 6. Secara tidak sengaja, saya mendengar percakapan mereka. Awalnya, sang anak bercerita tentang pelajarannya yang didapatkan di sekolah hari ini. Pembicaraannya terdengar biasa-biasa saja.
"Saya harus belajar keras, Mam." katanya kepada sang ibu yang ia panggil Mami. Siswa di kelas saya itu ada 70 orang dan semester lalu, saya ada di rangking 16....." and so on and so forth.
"Percakapan antara ibu dan anak dengan kata 'saya' apa nggak terlalu formal?" gumamku dalam hati.
Percakapan mereka pun sayup-sayup terdengar karena bersaingan dengan deru mesin kendaraan bermotor di jalan Wastukancana. Percakapan itu kembali terdengar ketika sudah memasuki ruas Jalan Cihampelas. Kali ini yang mereka bicarakan adalah tentang macam-macam kepribadian manusia: phlegmatic, sanguinis, choleric dan melancholic.
"....pokoknya, kalau sang kolerik lagi panas-panasnya, lagi berkobar apinya, si flegi (phlegmatic maksudnya--gp) pasti akan selalu menjadi air yang memadamkan api tersebut. dan kalau sanguin itu hangat, pasti si flegi akan menjadikannya sebagai tempat berlindung..."
"Subhanallah! Ilmu tentang kepribadian seperti itu baru saya dapatkan waktu sebelum masuk kuliah! Tapi dia, anak SD itu, sudah mengetahuinya sejak usia dini!" saya pun terkagum-kagum sendiri dalam hati. Seandainya kondisi memungkinkan dan kalau hukum mengizinkan, akan saya rekam percakapan itu dan akan saya bagikan kepada Sahabat Pena.
Anak ini di masa depannya nanti, Insya Allaah, akan menjadi orang yang sukses.
=======================================
Pukul 10.30-13.00
Sampai di jurusan, tempat nongkrongnya anak-anak Jurusan Bahasa Inggris UPI. Rencananya sih, mau mentoring jam 11 bareng teman-teman keputrian, tapi baru ada Teh Fitrika, sang KaDiv dan Teh Rina, KaDepRoh. Masih lama, ya sudah, saya naik satu tingkat ke lantai dua untuk "menenangkan diri." Sudah jam 11. Saya turun lagi dan ternyata belum bertambah orang, hanya ada Teh Fitrika, Teh Rina dan Teteh-teteh lain yang lagi asyik ngobrol di stand pendaftaran AECS. Singkat cerita, kami pun pergi ke tempat yang direncanakan, Cafe Limamu di dekat SD Isola, Geger Kalong (Gerlong). Di sana, kita mentoring. Intinya, pertemuan kali ini adalah untuk menentukan jadwal. akhirnya terpilih hari Rabu ba'da ashar sebagai jadwalnya.
Ada cerita yang menginspirasi dari teh putri (I call her: bundo). Waktu itu, kami sedang mendiskusikan jadwal yang tepat untuk mentoring kami. Intinya, kalau kita meniatkan pergi karena Allah, sejauh apa pun kita pergi pasti tidak akan terbebani oleh jauhnya jarak yang ditempuh. Agak tersindir juga sih, sama ceritanya Bundo, hehehe.
======================================
Pukul 13.00
Waktunya pergi ke lantai lima FPBS, kuliah Pendidikan Kewarganegaraan. It's show time! Presentasi kali ini giliran kelompoknya Reza, Shandy, Dina, Ichot sama Isa yang membahas tentang geopolitik dan wawasan nusantara. Presentasi pun dimulai! Di akhir presentasi, saya mengajukan dua pertanyaan:
  1. Apa yang dimaksud dengan konstelasi?
  2. Seperti yang Anda sebutkan tadi, bahwa Wawasan Nusantara menjunjung tinggi pluralisme. Namun sekarang, setelah munculnya fim Tanda Tanya, ternyata pluralisme itu ditentang oleh para ulama. Bagaimana pendapat Anda? terimakasih.
Jawabannya:
  1. Konstelasi: sekumpulan orang atau perangkat sebuah negara.
  2. Pluralisme yang ada di film Tanda Tanya, karya Hanung Bramantyo itu hanya ingin menunjukkan keberagaman agama di Indonesia yang Bhinneka Tunggal Ika. Begitupun dalam konteks wawasan Nusantara.
Kemudian, Pak Trisna, dosen PKn pun memberikan penjelasan tentang Geopolitik dan Geostrategi. Diantara penjelasan beliau yang paling saya ingat adalah: Mengurus negara sebesar negara kita itu tidak mudah dan sekarang, kita itu bukan sedang mundur tetapi sedang berkembang. Saya bertanya lagi,
"Pak, ada segelintir orang yang menyebutkan bahwa bokbroknya negara kita itu disebabkan oleh sistem pemerintahan yang salah. Kita menganut sistem demokrasi yang menurut mereka adalah sistem yang salah. Bagaimana menurut Bapak?"
Beliau menjawab:
"Sebenarnya bukan sistem pemerintahan yang salah." Beliau pun menunjukkan slide presentasi yang menjelaskan sebab-sebab suatu negara dikatakan negara maju dan berkembang. Dalam slide tersebut, dijelaskan bahwa:
"Suatu negara dikatakan maju, apabila rakyatnya jujur, menaati hukum dan norma yang berlaku. Sistem Pemerintahan sama sekali bukan satu-satunya faktor kemuajuan sebuah negara."
==================================
Pukul 16.00
Saya baru sadar, setahun yang lalu saya menempuh ujian yang sangat bersejarah dalam hidup saya:
UM UPI :)

Ta'lim Pengurus BAQI.
Narasumber: Ustadz E. Kosasih
Tema: Hidup di Bawah Naungan Al-Qur'an

Sebelum kita beranjak kepada tema yang diusulkan: Komitmen Menjadi Pendakwah Qur'ani, mari kita sama-sama cermati. Apakah yang dimaksud dengan komitmen?
Komitmen, dalam Bahasa Arab disebut Al-Istizam yang berarti janji.
Sang Guru pun kemudian menjelaskan bahwa seorang pendakwah Qur'ani harus mengetahui apa saja keutamaan Al-Qur'an.
  1. Kitab yang diberkati (QS 6 ayat 92)
  2. Membimbing kepada jalan yang lurus (QS 17 ayat 9)
  3. Tidak ada kebatilan di dalamnya
  4. Bukti hati yang terjaga.
    Dari Ibnu Abbas ra berkata: Rasulullaah bersabda: Sesungguhnya orang yang di hatinya tidak ada Al-Qur'an di dalamnya, maka ia bagaikan rumah kosong. HR Tirmidzi.
  5. Memperoleh Kebajikan
  6. Turunnya Rahmah dan Sakinah
  7. Penyebab terangkatnya derajat suatu kaum
  8. Bersama malaikat di hari kiamat
  9. Diberi syafaat (pertolongan). Selengkapnya, bacalah buku: Rencana Penghapusan Islam dan Pembantaian Kaum Muslim di Abad Modern. Dalam buku tersebut, dijelaskan bahwa Selagi Al-Qu'an masih bersama umat Islam, Eropa dan bangsa kafir lainnya tidak dapat menguasai Islam. Namun, Rasul mengeluh (baca Surat Al-Furqon ayat 30)
Kiat Mujahadah Al-Qur'an:
  1. Lancarkan tilawah. 1 juz dalam waktu 30-40 menit.
  2. Istiqomah. Berdoalah kepada Allaah dengan membaca QS 3 ayat 8.
  3. Usahakan selalu mengganti (qodo) ketika kita tidak dapat mencapai target.
  4. Sering-seringlah memanjatkan harapan (berdoa).
  5. Amal sholeh menghasilkan energi baru.
Kendala yang harus diwaspadai:
  1. Menganggap sepele tilawah
  2. Lemahnya wawasan tentang Al-Qur'an
  3. Tidak ada waktu wajib untuk membaca Al-Qur'an
  4. Terbawa lingkungan yang tidak cinta Al-Qur'an
AKIBATNYA:
  1. Sedikit berkah dalam hidupnya
  2. Memiliki jiwa hampa
  3. Tertundanya pertolongan dari Allah
  4. Diberi kehidupan yang sempit
  5. Di akhirat menjadi orang buta
======================================
"Selalu ada bunga yang mekar setiap hari. Walaupun bunga itu seharum teratai, harum namun tak mewangi."

Kamis, 05 Mei 2011

Salmon

Seperti biasa, kalau cuaca dingin begini, paling enak duduk di depan Happy (nama laptop saya) dan memijatnya untuk menghasilkan sebuah goresan. "Goresan apalagi kali ini?" saya pun bertanya dalam hati sambil membuka-buka binder yang sudah hampir satu tahun saya telantarkan. Ternyata ada sebuah wacana yang (lagi) semula berbentuk rangkaian pesan singkat (SMS) dari seorang teman. If I'm not mistaken, saya berjanji untuk share tulisan ini di note Facebook tetapi baru sekarang saya bisa menerbitkan posting ini di blogger. Talking about my friend, dia itu memang gemar memotivasi orang lain dan kalau tidak salah ingat, salahsatu mimpinya adalah menjadi motivator terkenal seperti Pak Mario Teguh. Semoga cita-citanya tercapai, yaa? Aamin.

Teman : Mana yang lebih mahal, ikan mas atau ikan salmon?
Saya : Ini tebak-tebakan atau beneran?
Teman : Beneran laaah! Emang kalau tebakan, jawabannya apa?
Saya : Kalau tebak-tebakan, jawabannya ikan mas tapi kalau beneran, jawabannya salmon.
Teman : Nggaa, ini beneran ko'. Okay, jadi jawaban kamu salmon yaa? ko' bisa?
Saya : Salmon kan ikan impor, hehehe #asal.
Teman : Hehehe. Jadi gini, fin...
Dilihat dari tempat tinggalnya, kebanyakan ikan mas tinggal di kolam yang airnya tidak mengalir. Walaupun airnya mengalir, pasti ia akan berenang mengikuti arus. Tetapi lihatlah salmon. Ia tinggal di perairan dingin dan arusnya kuat. Bukan hanya itu, ia pun berenang melawan arus yang kuat.
Mm
Mungkin karena perjuangannya yang berani dan kuat melawan arus, dunia menghargainya jauh lebih mahal dari ikan-ikan lainnya yang tinggal di sungai. Konon, salmon juga memiliki kandungan gizi yang tinggi. Berarti, bukan cuma kuat tetapi juga ia dapat memberikan manfaat bagi manusia dan beruang sebagai konsumen tetapnya.
Perjuangannya yang hebat membuat salmon terkenal di seluruh dunia. Siapa sih, yang tak tahu salmon?
Dari tadi saya terus yang ngomong, sekarang giliran kamu, fin! Apa yang bisa kamu ambil dari cerita itu?
Saya : Seseorang yang berjuang dengan sungguh-sungguh, pasti akan mendapatkan hasil yang memuaskan.
Teman : ...jangan malu untuk mengambil jalan yang berbeda dengan orang lain. Walaupun jalan itu harus melawan arus kehidupan di zona yang tidak aman. Salmon kan hidupnya nggak tenang dan dia nggak tahu kapan dia dimangsa sama beruang dan predator lainnya.
Baiklah, sekarang Sahabat Pena yang menafsirkan sendiri because
"the text is the death of the author."
-Roland Barthes



Diterbitkan ketika hujan digantikan gerimis pada hari Kamis pertama Mei 2011.
--> Jika ada pihak yang tidak berkenan, saya bersedia menghapus goresan ini :)

Drizzle

This is the first Thursday morning of May 2011 and this is my first day off in May. I opened my laptop and the skies opened their mouth to start raining. First, drizzles fall and then cold touches me in a pouring rain.

"I'm writing and finding my self within poetry,
here I am dessert longing for even drizzles on me"


If I drizzles fall
I will be here
To greet it with my soul
Why cannot I receive it?
When it falls so gentle
At times so hesitant
To pour as a rain

If I knew that I need
A bit of drizzles on me
So I can awake
Tickling with tiny droplets
Nourishing my senses
Moulting the dessert on me
A renewal of where I have been
Standing as New
A new start I begin




first Thursday of May 2011, at a cozy room.

Senin, 02 Mei 2011

I Miss You So Much

Bismillaahirrohmaanirrohiim..

Bacalah artikel ini dengan penuh penghayatan. Lebih baik jika Anda meminta teman Anda untuk membacakannya, sementara Anda menutup mata. Selamat mencoba!

===================================================

Saudara-saudaraku yang dirahmati oleh Allah, sejenak kita berhijrah ruhani ke masa dahulu dengan penghayatan ruhani, dari tempat ini ke tempat yang lain, dari waktu kini ke masa yang lain. Kita bukan lagi sedang berkumpul disini melainkan sedang berkumpul di tanah hijaz yang ngengar panas, dikitari padang-padang pasir dan bukit-bukit serta gunung-gunung batu. Kita bukan sedang menghirup udara segar sekitar kita melainkan kita sedang bersama menghirup udara kering tanah Mekah, Mina, Arafah, ketika lebih kurang 14 abad lampau.

Kita sekarang sudah berada disana, kita sudah berada ketika itu, kita semua bersama-sama sedang dalam pertengahan melaksanakan ibadah haji, tanggal 9 dzulhijah tahun ke sepuluh hijriah. Kita semua sama-sama sedang berpakaian ihrom yang serba putih. Pada pagi hari setelah berjama`ah sholat shubuh, berangkatlah kita meninggalkan Mina menuju Arofah. Kita berangkat mengikuti seorang manusia besar, yang memimpin seluruh ibadah haji kita. Manusia besar itu menunggang seekor unta. Kita berangkat bersama lebih kurang 100.000 ummat Islam lainnya, yang bersama-sama melakukan ibadah haji. Sambil berjalan kita bertakbir, dan menyerukan kalimah talbiyah yang bertolak dari qolbu kita yang syahdu, yang lahir dari suara kita yang haru.

“ Inilah kami ya Tuhanku. Inilah kami memenuhi panggilan dan perintah-Mu, tidak ada sekutu bagi-Mu, Ya Tuhanku. Sesungguhnya segala puji, ni`mat adalah bagi-Mu. Tidak ada yang meyekutui, menyaingi dan menandingi kekuasaan-Mu.”

Ibadah haji kita dipimpin oleh orang besar itu. Dia menghentikan untanya, seluruh perhatian, mata dan telinga, rasa dan karsa kita, semuanya terpusat kepadanya. Siapakah dia itu!

Dia adalah seorang yang teramat luar biasa. Kekuasaannya melebihi kaisar dunia barat. Dia lebih dipatuhi dari pada raja diraja manapun yang pernah lahir keatas dunia.

Allah SWT telah berkenan menaruh didepannya, kunci perbendaharaan dunia namun dia sendiri memilih corak dan cara hidupnya yang lain. Tempat tinggalnya bukan istana, melainkan rumah sangat bersahaya. Tempat duduknya bukan singgasana, melainkan alas lapik yang sederhana. Kepalanya tidak bermahkota, pundak dan dadanya suci dan sunyi dari tanda pangkat dan lambang kebesaran dunia. Tidak pernah tidur dikasur yang empuk, dipilihnya tikar ilalang untuk tempat tidur. Perutnya tidak pernah kenyang dengan roti atau makanan apapun. Dia adalah seorang yang malam-malam harinya diisi dengan zikir dan tafakur; senatiasa zikir mengingat Allah ketika tegak, duduk dan tergolek. Senantiasa tafakur merenungkan dan merenungi ayat-ayat ilahi lainnya, berupa alam semesta dengan segala fenomenanya, serta norma yang abadi yang mengaturnya.

Dia sendiri seorang yang ummi, namun telah diajarinya segenap penghuni bumi. Dia sendiri tidak pandai tulis baca, akan tetapi secara seksama telah dibacanya alam yang besar ini, dengan intuisinya yang tajam, dan akal budinya yang luas, persekutuannya yang dalam dengan jiwa alam semesta.

Dia adalah seorang yang siang harinya disarati dengan pergulatan berbagai kehidupan dan penghidupan ummat yang dipimpinnya. Dikunjunginya orang sakit tanpa pandang warna. Diiringkannya tiap usungan jenazah yang ditemuinya tanpa pilih bangsa. Diterimanya undangan seorang budak yang mengundang makan di gubuknya. Dijahitnya sendiri pakaiaannya yang koyak. Diperahnya sendiri susu kambingnya. Dilayaninya dirinya sendiri. Dia tidak pernah lebih dulu menarik tangannya dari genggaman salam orang lain. Dan tidak berpaling, sebelum orang lain itu berpaling. Tangannya senang memberi, hatinya amat berani, lidahnya amat terpercaya.

Dia adalah seorang yang sangat sayang pada anak-anak, suka dan senang sekali berjumpa dengan bocah-bocah kecil di tengah jalan yang ditemuinya. Perkataannya tidak pernah melukai orang lain.

Dia sesorang yang memiliki kekuatan mempengaruhi, baik terhadap orang awam, maupun orang yang terpelajar. Ada stu keagungan pada wajahnya, ada sikap jenius, demikian murni, begitu lemah lembut serta demikian kesatria, sehingga membuat yang siapapun berhubungan dengannya, dipenuhi perasaan hormat dan cinta.

Ya, dia sendiri sangat mencintai kita, dia sendiri sangat kita cintai. Kecintaan kita semua kepadanya, melebihi kecintaan kita kepada ayah bunda kita sendiri.

Demi kecintaan kita kepadanya karena tempaan iman, kita niscaya merelakan apapun yang dimintakan dari kita, dengan penuh kesadaran dan ketulusan. Kita telah berhutang budi yang tiada tara kepada orang besar itu. Dialah yang telah membimbing kita, dari gulita kegelapan ke cahaya gemerlapan.

Dia adalah seorang yang berwajah tampan, dagunya berjanggut bersih, rambut yang ikal panjang bersisir rapi. Dibawah sorbannya yang putih, mukanya bercahaya, matanya teduh namun tajam. Walaupun tubuhnya bersauh di atas punggung unta, namun pandangannya jauh berlabuh di kaki langit. Badannya kekar, dadanya bidang, kulitnya putih kemerah-merahan. Apabila beliau menolehkan wajahnya kekiri atau kekanan, seluruh badannya seakan turut menyertainya. Usia beliau sudah melewati enam puluhan.

Siapakah dia orang luar biasa itu !

Ya, siapa lagi kalau bukan manusia tercinta; junjungan kita Muhammad Rasulullah Saw.

Beliau masih duduk diatas Al Qashwa, unta kesayangan yang setia. Di dekat beliau bediri Rabi`ah bin Umayyah bin kholaf.

Seluruh perhatian kita terpusat kepadanya, tidak ada seorang pun mengucapkan sepatah kata. Suasana sangat hening dan tenang. Mulailah Rasulullah Saw menyampaikan pesan. Suaranya tenang dan berwibawa. Apakah yang paling pertama diucapkan beliau! Beliau mengundang seluruh perhatian kita, dengan kata-kata :

“ Wahai manusia ! Simaklah kata-kataku, karena akan kuterangkan padamu, Sesungguhnya aku tidak tahu, barang kali aku tidak akan bertemu lagi dengan kamu sesudah tahun ini, di tempat perhentian ini selama-lamanya.”

Dengan ungkapan-ungkapan sederhana, yang memancarkan sinar kasih dari lubuk hatinya, beliau berbicara kepada kita umatnya. Kita yang telah beliau pupuk, telah beliau rawat, dan pelihara selama dua puluh tiga tahun dari benih yang kecil, kemudian merekah bunga perlahan-lahan. Selanjutnya menjadi batang pohon yang kokoh berdaun rimbun, uratnya menghujam ke petala bumi, pucuknya menjulang ke langit. Siapakah diantara kita yang tidak tersentuh hatinya, tidak terharu mendengarkan panggilan jiwa yang keluar dari mulutnya. Dalam kontak rasa dan jiwa yang semacam itu, beliau telah membangunkan perhatian kita yang hadir dengan pertanyaan-pertanyaan retoris. Beliau bertanya kepada kita :

“ Wahai manusia ! Tahukah anda semua, bulan apa sekarang ini? Syahrul Harom, bulan al harom ya Rasulullah; jawab kita yang hadir.

Rasulullah SAW melanjutkan :

“ Sesungguhnya Allah telah mengharamkan atas kamu darah sesamamu, dan juga harta sesamamu, sampai kamu berjumpa dengan Tuhanmu sebagaimana haramnya bulanmu ini.”

Rasulullah melanjutkan dengan pertanyaan :

“ Tahukah anda semua, negeri apakah ini? Al baladul harom, negeri al Harom ya Rasulullah, jawab kita pula.

Rasulullah menyambung :

“ Allahumma. Sesungguhnya Allah telah mengharamkan atas kamu darah sesamamu, dan harta sesamamu, sampai kamu berjumpa dengan Tuhanmu, sebagaimana haramnya negerimu ini.”

Rasulullah bertanya pula :

“ Tahukah anda semua, hari apakah sekarang ini? Yaumul Harom, hari Al harom. Jawab kita semua.

Rasulullah melanjutkan :

“ Sesungguhnya Allah telah mengharamkan atas kamu darah sesamamu, dan juga harta sesamamu sampai kamu berjumpa dengan Tuhanmu nanti, sebagaimana haramnya negerimu ini, pada bulanmu ini, di negerimu ini. Sesungguhnya kamu sekalian akan berjumpa dengan Tuhanmu, dan akan ditanya segala perbuatanmu.”

Khutbah perpisahan beliau itu mencapai klimaksnya, ketika Rasulullah menyampaikan pesan :

“Camkanlah perkataanku ini, wahai manusia. Sesungguhnya telah kusampaikan kepadamu. Dan sesungguhnya telah aku tinggalkan kepadamu sesuatu, yang bila kamu berpegang teguh padanya, pasti kamu tidak akan tersesat selama-lamanya. Sesuatu itu adalah yang terang dan nyata; kitabullah dan sunnah nabinya.”

Kemudian beliau berseru :

“ Hendaknya anda semua yang hadir, menyampaikan kepada siapa yang tidak hadir. Semoga barang siapa yang berniat menyampaikannya, akan lebih mantap memperhatikannya.”

Seusai menyampaikan khutbah perpisahan itu Rasulullah turun dari untanya. Setelah menunaikan sholat dzuhur dan ashar berjamaah, beliau bersama kita berangkat menuju tempat yang bernama sakharah. Disanalah beliau menyampaikan wahyu Allah yang terakhir sebagai penutup risalah.

“ Pada hari ini, aku telah menyempurnakan bagimu agamamu, dan aku telah mencukupkan nikmat anugrahKu, dan aku ridho Al Islam sebagai agamamu…… (QS. Al Maidah : 3)

Masih terngiang di telinga kita, apa yang diisyaratkan oleh Rasullah pada permulaan khutbah perpisahan pada pagi itu. Kemudian dilanjutkan dengan pewarisan dua pedoman hidup, yakni Al Qur`an dan Sunnah Rasul. Selanjutnya dipungkas dengan ayat penutup; pewarisan dinul Islam, dasar, pandangan dan keyakinan hidup muslim. Rangkaian peristiwa yang mencekam ini, diterima Abu Bakar dengan hisakan dan cucuran air mata. Intuisi Abu Bakar sangat tajam, bahwa ini adalah alamat Risalah telah ditutup, alamat perpisahan dengan Rasul tercinta sudah dekat.

Dari hari ke hari, dari jam ke jam, dari detik ke detik. Tak dapat diundurkan meski sesaat, tak dapat dimajukan meski sekejap, hisakan tangis Abu Bakar makin menjadi-jadi. Suasana jadi kian mencekam. Para sahabat lainnya turut menangis pula, perlahan-lahan tangis itu menjalar kepada seluruh ummat yang banyak itu termasuk diri kita sendiri, yang tidak meminjam mata atau telinga, langsung menyaksikan dan merasakan penuh penghayatan.

Awan mendung mulai meliputi suasana batin kita. Pada suatu malam, pada akhir bulan safar tahun kesepuluh hijriah, sekembali dari ziarah ke pekuburan para syuhada, dan setibanya di rumah isteri beliau, terasa badan Rasulullah sakit, kian lama kian keras. Beberapa minggu terselang, walaupun badan nabi kian lama kian melemah, akan tetapi dengan dipapah oleh Ali dan Al Fadhal, pergi juga beliau ke masjid. Disana beliau berbicara :

“ Wahai umatku ! aku tahu bahwa kamu sekalian takut nabimu akan wafat. Akan tetapi cobalah tunjukkan kepadaku, siapakah diantara nabi-nabi sebelum aku yang tidak mati. Tidaklah dapat selama-lamanya aku berada di tengah-tengah kamu, karena tiap-tiap diri pasti merasakan mati. Aku akan pergi menemui Tuhanku, demikian juga kelak kamu sekalian.”

Abu Bakar yang ada di sekitar kita, yang nampaknya sudah bengkak batang lehernya menahan sedu menangis karena amat sedihnya. Selanjutnya Nabi berkata pula :

“ Wahai kaum muslimin ! jika aku telah berbuat salah terhadap salah seorang diantara kamu, disinilah aku akan mempertanggung jawabkannya. Jika aku berhutang sesuatu kepada salah seorang, segala yang kebetulan aku miliki adalah kepunyaanmu.”

“ Wahai umatku ! siapakah diantara kamu yang pernah aku pukul punggungnya. Inilah punggungku, balaslah. Siapakah diantara kamu yang kehormatannya telah aku nodai, inilah kehormatanku, nodailah. Kalau seandainya ada pula orang yang pernah kuambil barangnya, inilah barangku, mintalah gantinya. Kamu sekalian tak usah kuatir, bahwa aku akan menaruh dendam atau sakit hati kepada salah seorang daripadamu, sebab aku tidak kenal akan kedua sifat yang rendah itu.”

Diakhirinya, khutbah itu dengan mengutip sabda Ilahi dalam Al qur`an :

“ Negeri akhirat itu kami jadikan untuk orang-orang yang tidak menyombongkan diri, dan tidak berbuat kerusakan di muka bumi ini. Dan kesudahan yang baik itu adalah bagi orang-orang yang bertaqwa.”

Selanjutnya Rasulullah Saw berdo`a dan memohon rahmat Allah bagi kita yang hadir, dan bagi mereka yang telah syahid di medan jihad. Dinasihatkannya kepada kita semua, untuk menunaikan kewajiban agama, hidup dalam kedamaian dan dalam kelapangan hati. Saat yang sama sekali tidak kita nanti-nantikan, namun yang datangnya pasti itupun telah tiba. Rasulullah Saw tidak pernah lagi tampil dalam sholat berjamaah. Hari senin tanggal 12 rabi`ul awwal, tahun kesebelas hijriah, bertepatan dengan 8 juni 632 masehi. Arwah Rasulullah yang agung itupun terbang menemui pangkuan rahmatillah, beliau wafat. Bumi serasa menyempit, langit serasa menghimpit, matahari tak terasa lagi terik menggigit seperti biasanya. Bumi yang kita injak hari ini, seakan-akan bukan bumi yang kemarin. Kita sama sekali tidak siap menerima kenyataan seperti ini. Pada saat seperti itu, Umar bin Al Khottob dating. Kita kenal dia, dulunya dia berniat memancung leher nabi, kemudian berkat taufik hidayah dari Allah SWT, berbalik menjadi pengikutnya yang setia, penuh hormat dan cinta. Kecintaannya kepada nabi melebihi cintanya kepada ayah bundanya, anak isterinya dan dirinya sendiri.

Begitu mendengar Nabi telah wafat, umar terkejut, seakan-akan tidak menerima kenyataan ini, bahkan dia menghunus pedangnya sambil mengancam ; siapa yang berani berkata Nabi telah wafat, akan dipisahkan kepala dari badannya. Dalam keadaan demikian, tak seorangpun berani mengucapkan sepatah kata, tak seorangpun berani beradu pandang dengan Umar. Pada saat itulah Abu Bakar As-Shiddiq menyeruak diantara kita yang mengerumuni rumah Nabi. Abu Bakar langsung masuk ke rumah Nabi, tanpa menghiraukan Umar yang sedang tidak menguasai diri. Abu Bakar langsung ke kamar, tempat jenazah Nabi yang mulia dibaringkan, tempat beliau tidur semasa hayatnya. Mata Abu Bakar berkaca-kaca. Dengan tangannya yang gemetar, Abu Bakar membuka kain yang menutupi jenazah Nabi. Ditatapnya dengan nanap, disertai dengan isakan air mata. Dibungkukkannyakepalanya, dengan bibirnya yang gemetar, dikecupnya wajah Rasulullah. Dari bibirnya yang gemetar, dengan terbata-bata, keluarlah kata-kata :

“ Wahai junjungan yang mulia, relalah aku dan bundaku menjadi tebusan nyawamu.”

“ Junjunganku, betapa mulia dan harumnya dikau pada saat hayatmu. Dan betapa mulia serta harumnya dikau pada saat wafatmu.”

Kemudian Abu Bakar dengan tenang meninggalkan jenazah Nabi, langsung menemui kita umat Islam, yang sedang dikabuti kesedihan, dan diombang-ambingkan ketidaktentuan. Sementara itu Umar bin Khottob masih tetap memegang pedang terhunus. Dengan lantang namun pasti serta berwibawa, Sayyidina Abu Bakar berkata :

“ Ingatlah ! Barangsiapa yang menyembah Muhammad, sesungguhnya Muhammad telah wafat. Dan barang siapa menyembah Allah, sesungguhnya Allah maha hidup tak kenal mati.”

Kemudian kata-katanya itu dilanjutkan dengan ayat-ayat Al qur`anul karim :

“ Muhammad itu tidak lain adalah seorang Rasul. Telah lewat berlalu sebelumnya rasul-rasul lainnya. Manakala beliau berpulang atau syahid di medan laga, apakah kalian akan berbalik kafir, sedikitpun tidak memadhorotkan Allah. Allah pasti akan memberikan pahala kepada orang-orang yang bersyukur.” (QS Ali Imran : 144)

Mendengar ayat Al Qur`an itu, kita terdiam. Dan Umar yang selama itu kehilangan keseimbangan, jadi terhenyak. Sekujur tubuhnya bersimbah keringat dingin, kakinya yang kekar tiada kuasa lagi menahan tubuhnya yang melunglai, dia jatuh terduduk rubuh.

Hasan bin Tsabit, seorang penyair dan sahabat Nabi Almarhum, dengan tepatnya telah berhasil menerjemahkan suasana kepiluan perasaan kita ketika itu, yang ditinggalkan Nabi Saw tercinta, dengan ungkapan kata-katanya sebagai berikut :

“ Engkaulah biji mataku, sekarang setelah engkau tutup usia mataku telah menjadi buta. Sekarang tak kupedulikan lagi siapa yang mati, sebab hanya kematian engkau sajalah yang aku cemaskan.”

Selanjutnya kita orang yang beriman berkata :

“ Semoga hidupku jadi korban bagimu, ya Rasulullah ”.

sekarang, tanyalah diri kita masing-masing:

  1. sudahkah saya mengenal Rasulullaah?
  2. sudahkah saya mengidolakan beliau?
  3. apakah saya merindukan sosok pemimpin seperti beliau? sekarang ini tidak ada sosok pemimpin yang merakyat dan sederhana seperti beliau. tidak ada lagi suri tauladan seperti beliau.



diambil dengan perubahan dari: Silabus MENTARI yang ditulis oleh Kang Abbas.

Minggu, 01 Mei 2011

Vamanos!

"Yaa Allah, sesungguhnya aku memulai pagi dari-Mu dalam kenikmatan..."
-dzikrulma'tsurot

Ketenangan dan kebahagiaan telah kurasakan sejak membuka mata tadi pagi. Entah apa yang membuatku senang hari ini, padahal nothing special. Sejenak kumencoba untuk berbaik sangka dan perlahan kutersadar, inilah sesuatu yang spesial dari-Nya. Rasa tenang dan bahagia. Pagi ini kulewati tanpa shalat dan ma'tsurot. Mengapa? Jawabannya, hanya Dia dan parawanita yang tahu :)
Pintu kamar perlahan kubuka dan ternyata tak ada siapapun di ruang tengah.
"Mama mana?" tanyaku dalam hati. Ternyata beliau sedang asyik di dapur.
Memulai hari dengan segelas coklat panas adalah kebiasaanku sejak beberapa bulan ini. Kunikmati coklat itu sambil bercengkrama dengan mama, satu-satunya orang yang paling pertama terbangun di Sabtu pagi ini.
Pesawat televisi kunyalakan, dan kucari acara yang selama ini belum pernah kusaksikan. Katanya, acara itu ditayangkan setiap hari Sabtu pukul 06.30. Apa nama acaranya? Aku pun tak tahu. Yang aku tahu hanyalah jargon acara tersebut:
Jama'aaaaaaaaaah, ooooooooy! Jama'aaaaaaaaaaaaaah
Alhamdu.........
Lillaaaaah.
Kucari di semua stasiun TV, tetapi tak satupun kutemukan.
"Cari apa sih?" tanya mamaku.
"Acara pengajian. Katanya acaranya lucu."
"Oooh, kalau acara kaya gitu sih, pagi, jam enam."
Baiklah. Pencarian kuhentikan dan kuputuskan untuk menikmati kembali coklat hangat sambil menyaksikan berita tentang pernikahan Prince William dan Kate Middleton. Sejak beberapa hari yang lalu, aku dan mama selalu bertingkah seolah-olah kami diundang ke pesta pernikahan tersebut.
"Ma, besok mau pake baju apa ke sana?"
"Batik ajaa, ga usah ribet!"
"Oooh sip."
"Nanti jangan makan sate ya, haram sate di sana mah pake daging babi. Hehe..."

Adegan yang kusaksikan saat itu, adalah janji setia sehidup semati yang terucap antara William dan Kate.
"Ooooh, mungkin ini akad nikah versi umat Kristiani :D"
I, William Arthur Philip Louis, take thee, Catherine Elizabeth, to my wedded wife, to have and to hold from this day forward, for better, for worse: for richer, for poorer; in sickness and in health; to love and to cherish, till death us do part, according to God’s holy law; and thereto I give thee my troth.

I, Catherine Elizabeth, take thee, William Arthur Philip Louis, to my wedded husband, to have and to hold from this day forward, for better, for worse: for richer, for poorer; in sickness and in health; to love and to cherish, till death us do part, according to God’s holy law; and thereto I give thee my troth.
Telepon berdering. Mama segera mengangkatnya. Setelah selesai percakapan lewat telepon itu, aku bertanya, "siapa, Ma?"
"Teteh, ngajak jalan-jalan. Tapi bingung mau ke mana. Nanti kalau udah pasti mau ke mana, di telepon lagi, katanya."
"Oooh."
Kami melanjutkan tontonan sampai akhirnya, telepon berdering lagi. Kali ini percakapannya singkat kemudian mama memberitahuku bahwa kakakku mengajak kami jalan-jalan ke kota intan, Garut.
"Siap-siap, yuk? Sekarang mau dijemput sama teteh. Kita ke Garut." ajak mama.
Aku pun melihat jam dinding persegi berwarna putih yang terpasang di dinding ruang tengah, "yaaah, kalau bilangnya sekarang, paling dua jam lagi sampai ke sini." saat itu jam menujukkan pukul 09.30.
Mama hanya tertawa mendengar ocehanku. Mama pun tahu, kalau kakakku itu tak pernah tepat waktu, alias ngaret.
Kami pun memutuskan untuk bersiap-siap. Pukul berapapun kami dijemput, yang penting kami sudah siap. Segala persiapan mulai dari mandi sampai membereskan rumah pun selesai kami kerjakan sampai pukul 11.00. Belum ada tanda-tanda jemputan akan datang.
"Tuh kan, dua jam lagi!" seruku.
Tepat! Dua jam kemudian kakakku beserta suami dan kedua orang putrinya datang menjemput. Pukul 11.30. Kami pun memutuskan untuk pergi setelah sholat dzuhur.
==================================================

Sepanjang perjalanan Bandung-Garut aku tertidur hingga sampailah kami ke tempat tujuan, Danau Dariza. Tempat wisata ini memiliki lima buah kolam renang. Satu kolam kecil untuk anak-anak, dua kolam air panas, dan dua kolam air dingin dengan kedalaman yang beragam. Harga tiket masuknya pun cukup terjangkau, 16.000 rupiah untuk dewasa dan 13.000 rupiah untuk anak-anak. Selain berenang, Anda dapat menikmati fasilitas lain, seperti flying fox, sepeda air, dan arena permainan anak-anak. Setelah puas berenang, kami pun memutuskan untuk berkeliling danau dengan mengendarai sepeda air. Kami membeli dua tiket sepeda air seharga Rp 12.500. Satu tiket berlaku untuk dua orang dewasa dan satu orang anak-anak.
Setelah puas berkeliling danau, kami pun pulang. Namun sebelumnya, kami mampir ke restoran Sambal Cibiuk yang terletak di jalan Otista, Garut. Restoran ini dirancang sedemikian rupa sehingga menyerupai pemandangan desa. Di bagian depan, ada meja dan kursi rotan tersusun rapi sedangkan di bagian belakang, ada beberapa saung lesehan yang dihadapkan ke arah sawah yang terletak di tengah saung-saung tersebut. Sorry, I don't have any idea how to say saung in Bahasa Indonesia, hehehe. Kenyang menyantap hidangan Cibiuk, kami pun melanjutkan perjalanan pulang ke Bandung dan lagi, saya tertidur di perjalanan :)
Alhamdulillaah, what a nice trip!
Sakiinah melaporkan untuk Goresan Pena.





Ruang tamu, awal bulan Mei 2011, pukul 3.59 (waktu laptop)

temukan di sini

Memuat...