"Selalu ada bunga yang mekar setiap hari.
Walaupun bunga itu seharum teratai,
harum namun tak mewangi."
-Sakinah-
Bismillaah.
Hari Jum'at adalah hari kejepit bagi saya. Mengapa? Karena hari kamis saya libur and, you know what? Saya merasa (sangat) malas pergi ke kampus setiap hari Jum'at. Fortunately, selalu saja ada yang membunuh rasa malas saya ini, misalnya presentasi mata kuliah Pendidikan Kewarganegaraan, rapat divisi keputrian, Kajian Cinta Al-Qur'an dan lain-lain. Hanya satu yang membuat saya malas menghadapi hari Jum'at di semester dua ini: mata kuliah Olahraga. Apalagi kalau disuruh lari empat keliling stadion UPI. Masya Allaah! Capek bangeeeeeeeeeeeeeeeeett!
Pukul 06.28
Ponsel bergetar. Ada SMS dari Shandy:
Jarkom dari Yura:hari ini olahraga sendiri,absen berlaku. Dosen ga bisa hadir.
"Yah! Nggak rame banget sih? Mending libur aja sekalian!" gerutuku dalam hati,"telepon Yura ah!"
.....................
Yura: Hallo..
Saya: Hallo, Yur. Jatah bolos mata kuliah olahraga teh berapa kali sih?
Yura: Nggak tau.
Saya: Oooh ya udah atuh kalau gatau mah... (belum selesai)
Yura: Ya udah nggak usah dateng aja, Fin. SMS-in aja anak-anak. Bilang, nggak usah dateng. Biar aku aja yang absenin.
Saya: (senang tiada terkira) asyik! ya udah deh, sip! 'makasih ya, Yur?
.....................
SMS pun saya kirimkan ke semua teman kelas A2. As you see, my chairlady, Yura itu baik banget yaa, orangnya? Nggak salah deh, milih dia jadi chairlady! Hehehe.
NOTICE: DON'T TRY THIS AT ANYWHERE!
=============================
Pukul 10.00
Di Jalan Riau, sopir angkot menghentikan mobilnya untuk menaikkan penumpang. Kali ini, angkot yang saya tumpangi adalah angkot Kebon Kalapa (baca: Abdul Muis)--Ledeng. Di sana, ada sepasang ibu dan anak laki-laki usia sekolah dasar. Saya tidak tahu persis kelas berapa, tetapi dari pembicaraannya, mungkin dia kelas 4, 5 atau 6. Secara tidak sengaja, saya mendengar percakapan mereka. Awalnya, sang anak bercerita tentang pelajarannya yang didapatkan di sekolah hari ini. Pembicaraannya terdengar biasa-biasa saja.
"Saya harus belajar keras, Mam." katanya kepada sang ibu yang ia panggil Mami. Siswa di kelas saya itu ada 70 orang dan semester lalu, saya ada di rangking 16....." and so on and so forth.
"Percakapan antara ibu dan anak dengan kata 'saya' apa nggak terlalu formal?" gumamku dalam hati.
Percakapan mereka pun sayup-sayup terdengar karena bersaingan dengan deru mesin kendaraan bermotor di jalan Wastukancana. Percakapan itu kembali terdengar ketika sudah memasuki ruas Jalan Cihampelas. Kali ini yang mereka bicarakan adalah tentang macam-macam kepribadian manusia: phlegmatic, sanguinis, choleric dan melancholic.
"....pokoknya, kalau sang kolerik lagi panas-panasnya, lagi berkobar apinya, si flegi (phlegmatic maksudnya--gp) pasti akan selalu menjadi air yang memadamkan api tersebut. dan kalau sanguin itu hangat, pasti si flegi akan menjadikannya sebagai tempat berlindung..."
"Subhanallah! Ilmu tentang kepribadian seperti itu baru saya dapatkan waktu sebelum masuk kuliah! Tapi dia, anak SD itu, sudah mengetahuinya sejak usia dini!" saya pun terkagum-kagum sendiri dalam hati. Seandainya kondisi memungkinkan dan kalau hukum mengizinkan, akan saya rekam percakapan itu dan akan saya bagikan kepada Sahabat Pena.
Anak ini di masa depannya nanti, Insya Allaah, akan menjadi orang yang sukses.
=======================================
Pukul 10.30-13.00
Sampai di jurusan, tempat nongkrongnya anak-anak Jurusan Bahasa Inggris UPI. Rencananya sih, mau mentoring jam 11 bareng teman-teman keputrian, tapi baru ada Teh Fitrika, sang KaDiv dan Teh Rina, KaDepRoh. Masih lama, ya sudah, saya naik satu tingkat ke lantai dua untuk "menenangkan diri." Sudah jam 11. Saya turun lagi dan ternyata belum bertambah orang, hanya ada Teh Fitrika, Teh Rina dan Teteh-teteh lain yang lagi asyik ngobrol di stand pendaftaran AECS. Singkat cerita, kami pun pergi ke tempat yang direncanakan, Cafe Limamu di dekat SD Isola, Geger Kalong (Gerlong). Di sana, kita mentoring. Intinya, pertemuan kali ini adalah untuk menentukan jadwal. akhirnya terpilih hari Rabu ba'da ashar sebagai jadwalnya.
Ada cerita yang menginspirasi dari teh putri (I call her: bundo). Waktu itu, kami sedang mendiskusikan jadwal yang tepat untuk mentoring kami. Intinya, kalau kita meniatkan pergi karena Allah, sejauh apa pun kita pergi pasti tidak akan terbebani oleh jauhnya jarak yang ditempuh. Agak tersindir juga sih, sama ceritanya Bundo, hehehe.
======================================
Pukul 13.00
Waktunya pergi ke lantai lima FPBS, kuliah Pendidikan Kewarganegaraan. It's show time! Presentasi kali ini giliran kelompoknya Reza, Shandy, Dina, Ichot sama Isa yang membahas tentang geopolitik dan wawasan nusantara. Presentasi pun dimulai! Di akhir presentasi, saya mengajukan dua pertanyaan:
- Apa yang dimaksud dengan konstelasi?
- Seperti yang Anda sebutkan tadi, bahwa Wawasan Nusantara menjunjung tinggi pluralisme. Namun sekarang, setelah munculnya fim Tanda Tanya, ternyata pluralisme itu ditentang oleh para ulama. Bagaimana pendapat Anda? terimakasih.
- Konstelasi: sekumpulan orang atau perangkat sebuah negara.
- Pluralisme yang ada di film Tanda Tanya, karya Hanung Bramantyo itu hanya ingin menunjukkan keberagaman agama di Indonesia yang Bhinneka Tunggal Ika. Begitupun dalam konteks wawasan Nusantara.
"Pak, ada segelintir orang yang menyebutkan bahwa bokbroknya negara kita itu disebabkan oleh sistem pemerintahan yang salah. Kita menganut sistem demokrasi yang menurut mereka adalah sistem yang salah. Bagaimana menurut Bapak?"
Beliau menjawab:
"Sebenarnya bukan sistem pemerintahan yang salah." Beliau pun menunjukkan slide presentasi yang menjelaskan sebab-sebab suatu negara dikatakan negara maju dan berkembang. Dalam slide tersebut, dijelaskan bahwa:
"Suatu negara dikatakan maju, apabila rakyatnya jujur, menaati hukum dan norma yang berlaku. Sistem Pemerintahan sama sekali bukan satu-satunya faktor kemuajuan sebuah negara."
==================================
Pukul 16.00
Saya baru sadar, setahun yang lalu saya menempuh ujian yang sangat bersejarah dalam hidup saya:
UM UPI :)
Ta'lim Pengurus BAQI.
Narasumber: Ustadz E. Kosasih
Tema: Hidup di Bawah Naungan Al-Qur'an
Sebelum kita beranjak kepada tema yang diusulkan: Komitmen Menjadi Pendakwah Qur'ani, mari kita sama-sama cermati. Apakah yang dimaksud dengan komitmen?
Komitmen, dalam Bahasa Arab disebut Al-Istizam yang berarti janji.Sang Guru pun kemudian menjelaskan bahwa seorang pendakwah Qur'ani harus mengetahui apa saja keutamaan Al-Qur'an.
- Kitab yang diberkati (QS 6 ayat 92)
- Membimbing kepada jalan yang lurus (QS 17 ayat 9)
- Tidak ada kebatilan di dalamnya
- Bukti hati yang terjaga.
Dari Ibnu Abbas ra berkata: Rasulullaah bersabda: Sesungguhnya orang yang di hatinya tidak ada Al-Qur'an di dalamnya, maka ia bagaikan rumah kosong. HR Tirmidzi.
- Memperoleh Kebajikan
- Turunnya Rahmah dan Sakinah
- Penyebab terangkatnya derajat suatu kaum
- Bersama malaikat di hari kiamat
- Diberi syafaat (pertolongan). Selengkapnya, bacalah buku: Rencana Penghapusan Islam dan Pembantaian Kaum Muslim di Abad Modern. Dalam buku tersebut, dijelaskan bahwa Selagi Al-Qu'an masih bersama umat Islam, Eropa dan bangsa kafir lainnya tidak dapat menguasai Islam. Namun, Rasul mengeluh (baca Surat Al-Furqon ayat 30)
- Lancarkan tilawah. 1 juz dalam waktu 30-40 menit.
- Istiqomah. Berdoalah kepada Allaah dengan membaca QS 3 ayat 8.
- Usahakan selalu mengganti (qodo) ketika kita tidak dapat mencapai target.
- Sering-seringlah memanjatkan harapan (berdoa).
- Amal sholeh menghasilkan energi baru.
- Menganggap sepele tilawah
- Lemahnya wawasan tentang Al-Qur'an
- Tidak ada waktu wajib untuk membaca Al-Qur'an
- Terbawa lingkungan yang tidak cinta Al-Qur'an
- Sedikit berkah dalam hidupnya
- Memiliki jiwa hampa
- Tertundanya pertolongan dari Allah
- Diberi kehidupan yang sempit
- Di akhirat menjadi orang buta
======================================
"Selalu ada bunga yang mekar setiap hari. Walaupun bunga itu seharum teratai, harum namun tak mewangi."
hebat.. semua kegiatan di tulis detil. kok bisa ya..
BalasHapusnice blog sist. keep writing ang blogging.
visit mine ya..