Bismillaahirrohmaanirrohiim..
Bacalah artikel ini dengan penuh penghayatan. Lebih baik jika Anda meminta teman Anda untuk membacakannya, sementara Anda menutup mata. Selamat mencoba!
===================================================
Saudara-saudaraku yang dirahmati oleh Allah, sejenak kita berhijrah ruhani ke masa dahulu dengan penghayatan ruhani, dari tempat ini ke tempat yang lain, dari waktu kini ke masa yang lain. Kita bukan lagi sedang berkumpul disini melainkan sedang berkumpul di tanah hijaz yang ngengar panas, dikitari padang-padang pasir dan bukit-bukit serta gunung-gunung batu. Kita bukan sedang menghirup udara segar sekitar kita melainkan kita sedang bersama menghirup udara kering tanah Mekah, Mina, Arafah, ketika lebih kurang 14 abad lampau.
Kita sekarang sudah berada disana, kita sudah berada ketika itu, kita semua bersama-sama sedang dalam pertengahan melaksanakan ibadah haji, tanggal 9 dzulhijah tahun ke sepuluh hijriah. Kita semua sama-sama sedang berpakaian ihrom yang serba putih. Pada pagi hari setelah berjama`ah sholat shubuh, berangkatlah kita meninggalkan Mina menuju Arofah. Kita berangkat mengikuti seorang manusia besar, yang memimpin seluruh ibadah haji kita. Manusia besar itu menunggang seekor unta. Kita berangkat bersama lebih kurang 100.000 ummat Islam lainnya, yang bersama-sama melakukan ibadah haji. Sambil berjalan kita bertakbir, dan menyerukan kalimah talbiyah yang bertolak dari qolbu kita yang syahdu, yang lahir dari suara kita yang haru.
“ Inilah kami ya Tuhanku. Inilah kami memenuhi panggilan dan perintah-Mu, tidak ada sekutu bagi-Mu, Ya Tuhanku. Sesungguhnya segala puji, ni`mat adalah bagi-Mu. Tidak ada yang meyekutui, menyaingi dan menandingi kekuasaan-Mu.”
Ibadah haji kita dipimpin oleh orang besar itu. Dia menghentikan untanya, seluruh perhatian, mata dan telinga, rasa dan karsa kita, semuanya terpusat kepadanya. Siapakah dia itu!
Dia adalah seorang yang teramat luar biasa. Kekuasaannya melebihi kaisar dunia barat. Dia lebih dipatuhi dari pada raja diraja manapun yang pernah lahir keatas dunia.
Allah SWT telah berkenan menaruh didepannya, kunci perbendaharaan dunia namun dia sendiri memilih corak dan cara hidupnya yang lain. Tempat tinggalnya bukan istana, melainkan rumah sangat bersahaya. Tempat duduknya bukan singgasana, melainkan alas lapik yang sederhana. Kepalanya tidak bermahkota, pundak dan dadanya suci dan sunyi dari tanda pangkat dan lambang kebesaran dunia. Tidak pernah tidur dikasur yang empuk, dipilihnya tikar ilalang untuk tempat tidur. Perutnya tidak pernah kenyang dengan roti atau makanan apapun. Dia adalah seorang yang malam-malam harinya diisi dengan zikir dan tafakur; senatiasa zikir mengingat Allah ketika tegak, duduk dan tergolek. Senantiasa tafakur merenungkan dan merenungi ayat-ayat ilahi lainnya, berupa alam semesta dengan segala fenomenanya, serta norma yang abadi yang mengaturnya.
Dia sendiri seorang yang ummi, namun telah diajarinya segenap penghuni bumi. Dia sendiri tidak pandai tulis baca, akan tetapi secara seksama telah dibacanya alam yang besar ini, dengan intuisinya yang tajam, dan akal budinya yang luas, persekutuannya yang dalam dengan jiwa alam semesta.
Dia adalah seorang yang siang harinya disarati dengan pergulatan berbagai kehidupan dan penghidupan ummat yang dipimpinnya. Dikunjunginya orang sakit tanpa pandang warna. Diiringkannya tiap usungan jenazah yang ditemuinya tanpa pilih bangsa. Diterimanya undangan seorang budak yang mengundang makan di gubuknya. Dijahitnya sendiri pakaiaannya yang koyak. Diperahnya sendiri susu kambingnya. Dilayaninya dirinya sendiri. Dia tidak pernah lebih dulu menarik tangannya dari genggaman salam orang lain. Dan tidak berpaling, sebelum orang lain itu berpaling. Tangannya senang memberi, hatinya amat berani, lidahnya amat terpercaya.
Dia adalah seorang yang sangat sayang pada anak-anak, suka dan senang sekali berjumpa dengan bocah-bocah kecil di tengah jalan yang ditemuinya. Perkataannya tidak pernah melukai orang lain.
Dia sesorang yang memiliki kekuatan mempengaruhi, baik terhadap orang awam, maupun orang yang terpelajar. Ada stu keagungan pada wajahnya, ada sikap jenius, demikian murni, begitu lemah lembut serta demikian kesatria, sehingga membuat yang siapapun berhubungan dengannya, dipenuhi perasaan hormat dan cinta.
Ya, dia sendiri sangat mencintai kita, dia sendiri sangat kita cintai. Kecintaan kita semua kepadanya, melebihi kecintaan kita kepada ayah bunda kita sendiri.
Demi kecintaan kita kepadanya karena tempaan iman, kita niscaya merelakan apapun yang dimintakan dari kita, dengan penuh kesadaran dan ketulusan. Kita telah berhutang budi yang tiada tara kepada orang besar itu. Dialah yang telah membimbing kita, dari gulita kegelapan ke cahaya gemerlapan.
Dia adalah seorang yang berwajah tampan, dagunya berjanggut bersih, rambut yang ikal panjang bersisir rapi. Dibawah sorbannya yang putih, mukanya bercahaya, matanya teduh namun tajam. Walaupun tubuhnya bersauh di atas punggung unta, namun pandangannya jauh berlabuh di kaki langit. Badannya kekar, dadanya bidang, kulitnya putih kemerah-merahan. Apabila beliau menolehkan wajahnya kekiri atau kekanan, seluruh badannya seakan turut menyertainya. Usia beliau sudah melewati enam puluhan.
Siapakah dia orang luar biasa itu !
Ya, siapa lagi kalau bukan manusia tercinta; junjungan kita Muhammad Rasulullah Saw.
Beliau masih duduk diatas Al Qashwa, unta kesayangan yang setia. Di dekat beliau bediri Rabi`ah bin Umayyah bin kholaf.
Seluruh perhatian kita terpusat kepadanya, tidak ada seorang pun mengucapkan sepatah kata. Suasana sangat hening dan tenang. Mulailah Rasulullah Saw menyampaikan pesan. Suaranya tenang dan berwibawa. Apakah yang paling pertama diucapkan beliau! Beliau mengundang seluruh perhatian kita, dengan kata-kata :
“ Wahai manusia ! Simaklah kata-kataku, karena akan kuterangkan padamu, Sesungguhnya aku tidak tahu, barang kali aku tidak akan bertemu lagi dengan kamu sesudah tahun ini, di tempat perhentian ini selama-lamanya.”
Dengan ungkapan-ungkapan sederhana, yang memancarkan sinar kasih dari lubuk hatinya, beliau berbicara kepada kita umatnya. Kita yang telah beliau pupuk, telah beliau rawat, dan pelihara selama dua puluh tiga tahun dari benih yang kecil, kemudian merekah bunga perlahan-lahan. Selanjutnya menjadi batang pohon yang kokoh berdaun rimbun, uratnya menghujam ke petala bumi, pucuknya menjulang ke langit. Siapakah diantara kita yang tidak tersentuh hatinya, tidak terharu mendengarkan panggilan jiwa yang keluar dari mulutnya. Dalam kontak rasa dan jiwa yang semacam itu, beliau telah membangunkan perhatian kita yang hadir dengan pertanyaan-pertanyaan retoris. Beliau bertanya kepada kita :
“ Wahai manusia ! Tahukah anda semua, bulan apa sekarang ini? Syahrul Harom, bulan al harom ya Rasulullah; jawab kita yang hadir.
Rasulullah SAW melanjutkan :
“ Sesungguhnya Allah telah mengharamkan atas kamu darah sesamamu, dan juga harta sesamamu, sampai kamu berjumpa dengan Tuhanmu sebagaimana haramnya bulanmu ini.”
Rasulullah melanjutkan dengan pertanyaan :
“ Tahukah anda semua, negeri apakah ini? Al baladul harom, negeri al Harom ya Rasulullah, jawab kita pula.
Rasulullah menyambung :
“ Allahumma. Sesungguhnya Allah telah mengharamkan atas kamu darah sesamamu, dan harta sesamamu, sampai kamu berjumpa dengan Tuhanmu, sebagaimana haramnya negerimu ini.”
Rasulullah bertanya pula :
“ Tahukah anda semua, hari apakah sekarang ini? Yaumul Harom, hari Al harom. Jawab kita semua.
Rasulullah melanjutkan :
“ Sesungguhnya Allah telah mengharamkan atas kamu darah sesamamu, dan juga harta sesamamu sampai kamu berjumpa dengan Tuhanmu nanti, sebagaimana haramnya negerimu ini, pada bulanmu ini, di negerimu ini. Sesungguhnya kamu sekalian akan berjumpa dengan Tuhanmu, dan akan ditanya segala perbuatanmu.”
Khutbah perpisahan beliau itu mencapai klimaksnya, ketika Rasulullah menyampaikan pesan :
“Camkanlah perkataanku ini, wahai manusia. Sesungguhnya telah kusampaikan kepadamu. Dan sesungguhnya telah aku tinggalkan kepadamu sesuatu, yang bila kamu berpegang teguh padanya, pasti kamu tidak akan tersesat selama-lamanya. Sesuatu itu adalah yang terang dan nyata; kitabullah dan sunnah nabinya.”
Kemudian beliau berseru :
“ Hendaknya anda semua yang hadir, menyampaikan kepada siapa yang tidak hadir. Semoga barang siapa yang berniat menyampaikannya, akan lebih mantap memperhatikannya.”
Seusai menyampaikan khutbah perpisahan itu Rasulullah turun dari untanya. Setelah menunaikan sholat dzuhur dan ashar berjamaah, beliau bersama kita berangkat menuju tempat yang bernama sakharah. Disanalah beliau menyampaikan wahyu Allah yang terakhir sebagai penutup risalah.
“ Pada hari ini, aku telah menyempurnakan bagimu agamamu, dan aku telah mencukupkan nikmat anugrahKu, dan aku ridho Al Islam sebagai agamamu…… (QS. Al Maidah : 3)
Masih terngiang di telinga kita, apa yang diisyaratkan oleh Rasullah pada permulaan khutbah perpisahan pada pagi itu. Kemudian dilanjutkan dengan pewarisan dua pedoman hidup, yakni Al Qur`an dan Sunnah Rasul. Selanjutnya dipungkas dengan ayat penutup; pewarisan dinul Islam, dasar, pandangan dan keyakinan hidup muslim. Rangkaian peristiwa yang mencekam ini, diterima Abu Bakar dengan hisakan dan cucuran air mata. Intuisi Abu Bakar sangat tajam, bahwa ini adalah alamat Risalah telah ditutup, alamat perpisahan dengan Rasul tercinta sudah dekat.
Dari hari ke hari, dari jam ke jam, dari detik ke detik. Tak dapat diundurkan meski sesaat, tak dapat dimajukan meski sekejap, hisakan tangis Abu Bakar makin menjadi-jadi. Suasana jadi kian mencekam. Para sahabat lainnya turut menangis pula, perlahan-lahan tangis itu menjalar kepada seluruh ummat yang banyak itu termasuk diri kita sendiri, yang tidak meminjam mata atau telinga, langsung menyaksikan dan merasakan penuh penghayatan.
Awan mendung mulai meliputi suasana batin kita. Pada suatu malam, pada akhir bulan safar tahun kesepuluh hijriah, sekembali dari ziarah ke pekuburan para syuhada, dan setibanya di rumah isteri beliau, terasa badan Rasulullah sakit, kian lama kian keras. Beberapa minggu terselang, walaupun badan nabi kian lama kian melemah, akan tetapi dengan dipapah oleh Ali dan Al Fadhal, pergi juga beliau ke masjid. Disana beliau berbicara :
“ Wahai umatku ! aku tahu bahwa kamu sekalian takut nabimu akan wafat. Akan tetapi cobalah tunjukkan kepadaku, siapakah diantara nabi-nabi sebelum aku yang tidak mati. Tidaklah dapat selama-lamanya aku berada di tengah-tengah kamu, karena tiap-tiap diri pasti merasakan mati. Aku akan pergi menemui Tuhanku, demikian juga kelak kamu sekalian.”
Abu Bakar yang ada di sekitar kita, yang nampaknya sudah bengkak batang lehernya menahan sedu menangis karena amat sedihnya. Selanjutnya Nabi berkata pula :
“ Wahai kaum muslimin ! jika aku telah berbuat salah terhadap salah seorang diantara kamu, disinilah aku akan mempertanggung jawabkannya. Jika aku berhutang sesuatu kepada salah seorang, segala yang kebetulan aku miliki adalah kepunyaanmu.”
“ Wahai umatku ! siapakah diantara kamu yang pernah aku pukul punggungnya. Inilah punggungku, balaslah. Siapakah diantara kamu yang kehormatannya telah aku nodai, inilah kehormatanku, nodailah. Kalau seandainya ada pula orang yang pernah kuambil barangnya, inilah barangku, mintalah gantinya. Kamu sekalian tak usah kuatir, bahwa aku akan menaruh dendam atau sakit hati kepada salah seorang daripadamu, sebab aku tidak kenal akan kedua sifat yang rendah itu.”
Diakhirinya, khutbah itu dengan mengutip sabda Ilahi dalam Al qur`an :
“ Negeri akhirat itu kami jadikan untuk orang-orang yang tidak menyombongkan diri, dan tidak berbuat kerusakan di muka bumi ini. Dan kesudahan yang baik itu adalah bagi orang-orang yang bertaqwa.”
Selanjutnya Rasulullah Saw berdo`a dan memohon rahmat Allah bagi kita yang hadir, dan bagi mereka yang telah syahid di medan jihad. Dinasihatkannya kepada kita semua, untuk menunaikan kewajiban agama, hidup dalam kedamaian dan dalam kelapangan hati. Saat yang sama sekali tidak kita nanti-nantikan, namun yang datangnya pasti itupun telah tiba. Rasulullah Saw tidak pernah lagi tampil dalam sholat berjamaah. Hari senin tanggal 12 rabi`ul awwal, tahun kesebelas hijriah, bertepatan dengan 8 juni 632 masehi. Arwah Rasulullah yang agung itupun terbang menemui pangkuan rahmatillah, beliau wafat. Bumi serasa menyempit, langit serasa menghimpit, matahari tak terasa lagi terik menggigit seperti biasanya. Bumi yang kita injak hari ini, seakan-akan bukan bumi yang kemarin. Kita sama sekali tidak siap menerima kenyataan seperti ini. Pada saat seperti itu, Umar bin Al Khottob dating. Kita kenal dia, dulunya dia berniat memancung leher nabi, kemudian berkat taufik hidayah dari Allah SWT, berbalik menjadi pengikutnya yang setia, penuh hormat dan cinta. Kecintaannya kepada nabi melebihi cintanya kepada ayah bundanya, anak isterinya dan dirinya sendiri.
Begitu mendengar Nabi telah wafat, umar terkejut, seakan-akan tidak menerima kenyataan ini, bahkan dia menghunus pedangnya sambil mengancam ; siapa yang berani berkata Nabi telah wafat, akan dipisahkan kepala dari badannya. Dalam keadaan demikian, tak seorangpun berani mengucapkan sepatah kata, tak seorangpun berani beradu pandang dengan Umar. Pada saat itulah Abu Bakar As-Shiddiq menyeruak diantara kita yang mengerumuni rumah Nabi. Abu Bakar langsung masuk ke rumah Nabi, tanpa menghiraukan Umar yang sedang tidak menguasai diri. Abu Bakar langsung ke kamar, tempat jenazah Nabi yang mulia dibaringkan, tempat beliau tidur semasa hayatnya. Mata Abu Bakar berkaca-kaca. Dengan tangannya yang gemetar, Abu Bakar membuka kain yang menutupi jenazah Nabi. Ditatapnya dengan nanap, disertai dengan isakan air mata. Dibungkukkannyakepalanya, dengan bibirnya yang gemetar, dikecupnya wajah Rasulullah. Dari bibirnya yang gemetar, dengan terbata-bata, keluarlah kata-kata :
“ Wahai junjungan yang mulia, relalah aku dan bundaku menjadi tebusan nyawamu.”
“ Junjunganku, betapa mulia dan harumnya dikau pada saat hayatmu. Dan betapa mulia serta harumnya dikau pada saat wafatmu.”
Kemudian Abu Bakar dengan tenang meninggalkan jenazah Nabi, langsung menemui kita umat Islam, yang sedang dikabuti kesedihan, dan diombang-ambingkan ketidaktentuan. Sementara itu Umar bin Khottob masih tetap memegang pedang terhunus. Dengan lantang namun pasti serta berwibawa, Sayyidina Abu Bakar berkata :
“ Ingatlah ! Barangsiapa yang menyembah Muhammad, sesungguhnya Muhammad telah wafat. Dan barang siapa menyembah Allah, sesungguhnya Allah maha hidup tak kenal mati.”
Kemudian kata-katanya itu dilanjutkan dengan ayat-ayat Al qur`anul karim :
“ Muhammad itu tidak lain adalah seorang Rasul. Telah lewat berlalu sebelumnya rasul-rasul lainnya. Manakala beliau berpulang atau syahid di medan laga, apakah kalian akan berbalik kafir, sedikitpun tidak memadhorotkan Allah. Allah pasti akan memberikan pahala kepada orang-orang yang bersyukur.” (QS Ali Imran : 144)
Mendengar ayat Al Qur`an itu, kita terdiam. Dan Umar yang selama itu kehilangan keseimbangan, jadi terhenyak. Sekujur tubuhnya bersimbah keringat dingin, kakinya yang kekar tiada kuasa lagi menahan tubuhnya yang melunglai, dia jatuh terduduk rubuh.
Hasan bin Tsabit, seorang penyair dan sahabat Nabi Almarhum, dengan tepatnya telah berhasil menerjemahkan suasana kepiluan perasaan kita ketika itu, yang ditinggalkan Nabi Saw tercinta, dengan ungkapan kata-katanya sebagai berikut :
“ Engkaulah biji mataku, sekarang setelah engkau tutup usia mataku telah menjadi buta. Sekarang tak kupedulikan lagi siapa yang mati, sebab hanya kematian engkau sajalah yang aku cemaskan.”
Selanjutnya kita orang yang beriman berkata :
“ Semoga hidupku jadi korban bagimu, ya Rasulullah ”.
sekarang, tanyalah diri kita masing-masing:
- sudahkah saya mengenal Rasulullaah?
- sudahkah saya mengidolakan beliau?
- apakah saya merindukan sosok pemimpin seperti beliau? sekarang ini tidak ada sosok pemimpin yang merakyat dan sederhana seperti beliau. tidak ada lagi suri tauladan seperti beliau.
diambil dengan perubahan dari: Silabus MENTARI yang ditulis oleh Kang Abbas.
0 komentar:
Poskan Komentar