Alkisah di sebuah padang rumput, diceritakan ada seekor induk kambing menemukan anak singa yang terpisah dari kawanannya. Karena merasa kasihan, si induk kambing membawa anak singa itu ke kandang untuk merawatnya. Awalnya si anak singa itu ditolak dari grup kambing karena takut akan memangsa mereka. Tetapi setelah mendengar penjelasan si induk kambing, anak singa itu pun diterima oleh kawanan kambing. Hari-hari anak singa itu dihabiskan bersama kawanan kambing lain, bermain, bercengkrama, dan sebagainya sampai pada suatu saat datanglah sekawanan serigala menyerbu kawanan kambing. Suasana jadi kacau, para kambing berlarian tak tentu arah. Para kambing jantan dewasa berusaha melawan sekuatnya, para indukpun berusaha menyelamatkan anak-anaknya tak terkecuali anak singa itu.
“Hey anak singa!” kata pemimpin kambing, “kau adalah singa, tolong kami!!!”
Si anak singa malah bersembunyi di belakang induknya. Ia gemetar, sama seperti anak kambing lain.
“Aku takut…” kata si anak singa.
“Apa-apaan kau ini? Keluarlah dari tempatmu dan mengaumlah yang keras!” kata si pemimpin.
“Aku tidak bisa…” sambil tetap bersembunyi.
“Cepatlah keluar hey anak singa! Bantu kami!”
Terpaksa ia keluar karena tak tahan melihat kawanannya dihabisi oleh para serigala. Maka sambil gemetar, ia berusaha untuk melangkah keluar sarang. Saat keluar, para serigala ketakutan. Maka si anak singa itu memberanikan diri untuk mengaum. Tapi apa yang terjadi? Bukan auman yang keluar dari mulut si anak singa itu, malah suara,”embeeeeee…”
Para serigala pun menertawakannya,”hahahahahahaha…dia tak lebih dari seekor kambing biasa!”
Maka dengan semangat, serigala itu berusaha menerkam si anak singa. Namun, induk kambing berhasil melindunginya. Induk kambinglah yang jadi korban. Si anak singa hanya bisa menangis sambil terus mengembik. Pada saat terdesak itu, datanglah seekor singa dewasa dengan aumannya yang dahsyat, mengagetkan kawanan srigala itu, mereka berlarian. Para kambingpun tak kalah kaget. Sang singa lantas menghampiri si anak singa yang tengah menangisi induknya.
“apa yang terjadi pada dirimu?” tanya singa dewasa,”mengapa kau tak mengeluarkan aumanmu sebagai seekor singa?”
“aku hanya kambing biasa, tak bisa mengaum,” kata si anak singa.
“Lihat dirimu! Kau sama sepertiku, kau singa!” kata singa dewasa.
“Bukan! Aku kambing!”
Singa dewasa terkejut mendengar pernyataan tersebut,”ayolah! Ikut denganku…” katanya,”aku akan membawamu ke suatu tempat.”
Anak singa pun mengikuti singa dewasa. Ia dibawa ke daerah yang agak tinggi.
“mengaumlah!” kata singa dewasa.
“tidak, aku tidak bisa!”
“cobalah!”
Setelah dicoba, yang keluar hanyalah,”mbeeeee…”
“Ikuti aku…” kata singa dewasa,”RooooaaaaaaaRRRRR….”
Si anak singa berusaha sekuat tenaga,”roaaar,” ia berhasil!
“Ayo! Lebih keras lagi!”
“ROaarr…”
“LEBIH KERASSS!!”
“ROoOOoOAaAaAaRRrr…” suaranya terdengar ke seluruh penjuru hutan.
“Bagus!!” seru singa dewasa,”memang begitu seharusnya. Sekarang kau tahubahwa kau adalah singa sejati. Bukan kambing yang lemah…”
ü Banyak singa yang gatau kalau sebenernya dia singa.
ü Banyak orang kuat yang gatau kalo sebenernya dia kuat
ü Banyak orang yang nganggap dirinya lemah padahal dia kuat
ü Ada singa yang gatau dirinya singa
ü Ada yang tau kalo dia singa tapi pura-pura gatau
ü Ada yang tau dia singa tapi lebih milih jadi kambing karena udah kebiasaan
Semua itu karena lingkungan. 70% lingkungan memengaruhi pola pikir setiap orang.
“Sekarang saya tanya, siapa kamu?”
“saya merasa jadi anak singa yang merasa dirinya kambing…”
“mau sampai kapan kamu kaya gitu?”
“sampe ada yang menyadarkan bahwa saya adalah singa. Karena kalau saya ngrasa saya singa, orang-orang pasti takut dengan auman saya, mereka pasti menjauh…”
“hal itu gga akan terjadi kalau mereka MENYADARI bahwa mereka adalah singa tua. Yaaa, kecuali kalau mereka semua KAMBING…”
lantai utama Al-Furqon Bumi Siliwangi, 29042011, pukul 3.44 (waktu laptop)
0 komentar:
Poskan Komentar