Dinginnya malam 26 Robi’ul akhir 1432 Hijriyah mengiringi jemari untuk meraih pena dan mengajaknya menari di atas kertas. “ayo, ungkapkanlah! Ajak mereka berbagi!” bisiknya. “Jangan biarkan kisah ini habis dilahap masa!”
Jangan biarkan ia habis dilahap masa
Jangan biarkan sang ilmu usang dihapus waktu
Jangan biarkan masa melahap semuanya
Jangan biarkan waktu menghapus kisahmu
Dinginnya malam 26 Robi’ul akhir 1432 Hijriyah pun makin larut. Angin semakin asyik berhembus hingga tubuh tak ingin terpisah dari selimut.
Dunia ini selalu mengejar
Tanpa sadar batang usia sudah tinggi
Namun pencapaian diri hanyalah setinggi bayam
Sesering apapun disiram, ia hanya akan menjalar tanpa meninggi
Atau mungkin ia hanyalah cerek penuh berisi air keruh?
Tak berguna tanpa menuangkan isinya ke dalam gelas-gelas kaca
Seorang guru telah menyampaikan sebuah pesan dari seorang sahabat Rasulullaah “alwaajibatu aktsaru min awqootihaa.” Kewajiban yang Dia berikan kepada hamba lebih banyak dari pada waktu yang disediakan.
Namun, “sesungguhnya setelah kesulitan itu ada kemudahan.”
Segala sesuatu ada saatnya.
“saa’atu yunaajii fiihaa robbahu.” Saatnya untuk berbicara kepada Robb-mu. Dialah tempat meminta, berlindung, lagi Maha Mengetahui.
“saa’atu yuhaasibu fiihaa nafsah.” Inilah saatnya untuk menghisab diri atas apa yang telah diperbuat. Seperti pesan Ummar Bin Khatab,”haasibuu anfusakum qobla antuhaasabuu.” Hisablah dirimu sebelum kau dihisab!
“saa’atu yatafakkaru fii shon’illaah.” Sempatkan untuk merenung dan memikirkan ciptaan Allah. “sesungguhnya terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang yang berfikir.”
“saa’atullijibaatihi minal math’ami wal masyrob.” Inilah saatnya untuk memenuhi kebutuhan jasadiyah, makan dan minum.
Sedetik pun waktu tidak akan pernah kembali!
Wallaahu'alam bishowab
ruang sajak kedamaian, 31 Maret 2011
0 komentar:
Poskan Komentar