Kelelahan setelah melaksanakan mata kuliah olahraga pun terobati dengan acara rutin divisi keputrian. Temanya kali ini adalah Muslimah Sukses. Acara dimulai dengan pembukaan dan pembacaan ayat suci Al-Qur'an (yang tidak sesuai dengan tema. hehe) lalu dilanjutkan dengan pemberian materi oleh seorang dosen yang, subhanallah, merupakan salah satu dosen favorit saya.
Beliau memulai materinya dengan sebuah cerita tentang seorang akhwat yang pada masa kuliahnya dulu, selalu menutup diri dan menjauhkan diri dari aktivitas duniawi. Ia melakukannya karena sebuah tujuan: ingin menjadi muslimah yang beriman. Menurut cerita, ia ingin terlepas dari kehidupan kampus yang penuh dengan hedonisme. Maklum, kampus tempatnya belajar saat itu adalah kampus universitas katolik yang notabene jauh dari kehidupan islam. Untuk mencapai tujuannya itu, ia pun meninggalkan kegiatan perkuliahan dan segala macam aktivitas di kampus.
Teman-temannya pun heran, mengapa ia jarang bahkan tidak pernah muncul lagi di kampus. Apakah ia sakit? Drop out? atau tidak sanggup membayar SPP? Bukan. Ternyata, aktivitasnya sekarang adalah beraudiensi dengan Allah tiada henti, dan mengurung diri di kamar sepanjang hari.
"Apakah ini yang disebut muslimah sukses?" tanya ibu dosen disela-sela penyampaian materinya.
"Bukan." sahut para peserta yang kebanyakan mahasiswa angkatan 2009 dan 2010.
Ibu dosen pun melanjutkan ceritanya. Khawatir melihat keadaan sang putri, orang tuanya pun menasihati agar ia kembali ke kampus dan menjalani rutinitasnya sebagai seorang mahasiswi.
"Kira-kira seperti ini nasihatnya,'teteh, teteh itu muslimah yang beriman, sholeha. Tetapi kesholehan teteh bukan hanya untuk diri teteh sendiri tetapi untuk orang lain. Allah juga memerintahkan kita untuk menjalankan kehidupan dunia dan akhirat secara seimbang. Berarti, tugas teteh bukan hanya sholat dan mengaji tetapi juga kuliah dan bergaul sama orang lain. Allah juga kan, memerintahkan kita untuk menuntut ilmu?' Nah, setelah mendengar nasihat tersebut, ia pun kembali ke kampus dan berusaha mengejar ketertinggalannya." Ibu pun mengakhiri ceritanya.
"Kalau begitu, apa kriteria muslimah sukses itu?"
Beberapa orang peserta pun mengemukakan pendapatnya. Lalu, di akhir diskusi, Beliau menyimpulkan bahwa muslimah yang sukses itu adalah muslimah yang dapat dapat mengendalikan dirinya dengan baik (personally), berguna bagi orang banyak (socially) dan berperilaku sesuai dengan aturan yang berlaku (professionally).
Sebagai contoh, beliau memberikan ilustrasi tentang kehidupan seorang reporter akhwat, yang harus mengurus keluarga, pekerjaan dan bertanggung jawab kepada agamanya secara professional? Misalnya, ia diberi tugas untuk meliput pabrik wine (anggur) dan harus mencoba produk tersebut. "Lalu apa yang harus dilakukan jika Ia memang muslimah yang professional?" Setelah beberapa orang peserta mengemukakan pendapatnya, beliau pun menjelaskan bahwa jika sang reporter adalah orang yang professional (dalam hal ini professional dalam beragama), maka ia akan berterusterang dengan mengatakan: 'anggur ini terlihat lezat, pemirsa. Namun, saya tidak dapat mencicipinya karena agama saya melarang saya untuk mengonsumsi minuman beralkohol.'
Subhanallaah, saya kan pengen jadi reporter! Ternyata Allah membimbing langkah kaki saya ke acara Friday Party untuk mengajari saya tentang hal ini. Alhamdulillaah!
Muslimah sukses itu tidak hanya menguasai suatu bidang tetapi juga menguasai semua bidang, baik agama, profesi, dan mampu mengendalikan dirinya sendiri.
Wallaahu'alam bishowab.
selesai ditulis di Mushola FPBS lantai 2
0 komentar:
Poskan Komentar